EKSTRAKSI ZAT WARNA DARI KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana L) DAN APLIKASINYA PADA BENANG TENUN BIMA
Abstract
Kulit buah manggis sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih dianggap sebagai limbah oleh masyarakat maupun penjual masih kurang dan bahkan dibuang begitu saja. Salah satu bahan yang dapat di gunakan untuk pembuatan zat warna alami yaitu dari kulit buah manggis (Garcinia mangostana L). Kandungan yang terdapat pada buah manggis antasionin yang menghasilkan warna merah, ungu, dan biru (Indra 2009). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu pelarut terhadap ekstrak zat warna dari kulit buah manggis, mengetahui waktu optimum pada ekstrak zat warna kulit buah manggis dengan menggunakan metode maserasi, dan mengetahui pengaruh variasi waktu pelarut terhadap zat warna dari kulit buah manggis pada pewarnaan benabg bahan baku kain tenunan Bima. Ekstrak kulit buah manggis didapat dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol waktu 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Ekstrak yang diperoleh kemudian diukur nilai absorbansinya menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis pada rentang panjang gelombang 190-600 nm, serta digunakan untuk mewarnai benang tenunan. Hasil penelitian ini adalah variasi waktu pelarut etanol berperngaruh terhadap ekstrak zat warna dari kulit buah manggis dengan metode maserasi. Waktu optimum pelarut etanol untuk ekstrak zat warna dari kulit buah manggis dengan metode maserasi adalah waktu 4 jam yang menghasilkan nialai absorbansi 4.459. Dan variasi waktu pelarut etanol berpengaruh terhadap hasil warna pada bahan baku benang tenunan Bima.
References
Fardyanti, D. S. & Ria,. D. R (2015). Pemungutan Brazillin dari Kayu Secang (Caesilpinia Sappan L) dengan Metode Maserasi dan Aplikasinya Untuk Pewarnaan Kain. Jurnal Bahan Alam Terbarukan, 4 (1): 6-13
Indra, D. 2009. “Pewarna Alami dari Buah Manggis”, http://www.pikiran-rakyat.com/arsip/kampus.html
Lestari, A. A., Evy, W., & Yeni, M (2018). Pemanfaatan Tumbuhan Penghasil Warna Alami Untuk Tenun Ikat Oleh SuKU Dayak Iban Di Dusun Takalong dan Dusun Kalawik Kapuas Hulu Kalimantan Barat.Jurnal Hutan Lestari, 6 (4): 837-847
Mastututi, E., Winaputri, M. G., dan Harlyandi, P. (2013). Ekstraksi Zat Warna Alami Kelopak Bunga Rosella dengan Pelarut Etanol.Ekuilibirium, 12 (2):49-53
Rohmaniyah, M. (2016). Uji Antioksidan Ekstrak Etanol 80% dan Fraksi Aktif Rumput Bambu (Lophatherum gracile Brongn) Menggunakan Metode DPPH serta Identifikasi Senyawa Aktifnya. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.
Siahaan, L. O., Hutapea, E. R., dan Tambun, R. (2014). Ekstraksi Pigmen Antosianin dari Kulit Rambutan (Nephelium lappaceum) dengan Pelarut Etanol. Jurnal Teknik Kimia USU, 3 (3): 32-38.
Wiranigtyas, A, Ruslan, Sry, Agustina, & Uswatun, H. (2019). Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) dari Ekstrak Kulit Bawang Merah. Jurnal Redoks, 4 (01): 34-43
Yuniwati, M., Kusuma, A. W., dan Yunanto F. (2012). Optimasasi Kondisi Proses Ekstraksi Zat Pewarna dalam Daun Suji dengan Pelarut Etanol. Yogyakarta: Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST).


.png)


