Intergrasi Nilai Nggusuwaru Dalam Penguatan Karakter Siswa Ditinjau Dari Perspektif Hadits

  • Ruslan Ruslan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
  • Muhammad Yahya Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
  • Ambo Mase Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Keywords: Nilai Nggusuwaru, Karakter Siswa

Abstract

Pendidikan karakter perlu ditanamkan dalam pembelajaran di satuan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian yang kemukakan oleh beberapa peneliti menyimpulkan bahwa kearifan lokal dapat digunakan dalam pendidikan karakter. Sumber utama kearifan lokal adalah falsafah hidup, yang terangkum dalam berbagai cerita epik, cerita rakyat, lagu, slogan atau peribahasa, dan nasehat yang sering diucapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal budaya Bima memiliki makna dan nilai yang sangat kental terhadap kehidupanya. Ungkapan  Nggusu  Waru  berarti persegi delapan, antara lainya yakni: patuh / taqwa (dahu di ndai Ruma); keturunan (londo dou); kepandaian (loa ro bade); tingkah laku (ruku ro rawi); kehidupan (mori ra woko); kata dan ucapan (nggahi ro eli); keberanian (mbani ro disa) dan taat (to’a). Filosofi Nggusu Waru sangat berhubungan erat dengan kultur masyarakat Bima yang mayoritas beragama Islam, sehingga nilai-nilai tersebut syarat dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits. nilai Nggusu Waru “Ruku ro Rawi” yang berarti tingkah laku dalam konsep agama disebut sebagai akhlak sedangkan tingkah laku dari perspektif filsafat disebut etika dan moral. Konsep Nggusu Waru “Ruku ro Rawi” mencakup akhlak, etika dan moral. Etika lebih ditekankan dalam pembahasan tentang ilmu yang bersumber dari adat istiadat dan moral berupa nilai, sedangkan akhlak berupa perangai yang bersumber pada Al Qur’an dan Hadits.  Adapun yang menjadi dasar pendidikan karakter atau akhlak adalah Al-Qur’an dan Hadits. Berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Nilai Nggusu Waru “Ruku ro Rawi” sebagai kearifan lokal merupakan hal mendasar dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah maupun masyarakat di Bima.

References

Abdullah Muhammad Bin Ismail. 1981. Shahih Bukhari Juz 3. Istambul: Daarul Fikri.

Abi Khusain Muslim Bin. 1971. Shahih Muslim Juz 4. Libanon: Darul Khutub Al ‘Alamiyah.

Abdul Malik Muhammad Hasan, 2019, Nggusu waru sebuah kriteria pemimpin menurut budaya lokal Bima Dompu, Yogyakarta: Yayasan Nuansa Nusa.

Al-Arif, Ahmad Adib. Akidah Akhlak. 2009. Semarang: CV. Aneka Ilmu

Al-Khauly, Muhammad Abdul al-Aziz. 2006. Al-adab An-Nabawy. Semarang: Pustaka Nuun.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.

Juwariyah. 2010. Hadits Tarbawi. Yogyakarta: Teras

Kusumawati, I., 2016. Landasan Filosofis Pengembangan Karakter dalam Pembentukan Karakter. Academy of Education Journal. 7: 1-15.

Marewo. N, 2018, Nggusu Waru yang Tersisa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Motif Nggusu Waru.

Muhammad bin Ismail Al Amir. 2008. Subulus Salam. Lebanon: Darul Kotob Al-Ilmiyah

Nawawi, Imam. 1999. Riyadhus Shalihin, Terj. Ahmad Sunarto. Jakarta: Pustaka Imani

Purnama, E.K., 2014. Pengembangan Model Media Audio Pendidikan Karakter untuk Meningkatkan Sikap Kedisiplinan Siswa. Disertasi. Program Doktor Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Sebelas Maret.

Rosyid Setyawan. 2004. FATWA-Aqidah Akhlak. Surakarta: Obor Sewu Mandiri

Salam, A. 2022. Revitalisasi Nilai-Nilai Karakter Nggusu Waru sebagai Pembangunan Utama Pendidikan Karakter Anak Bima. Fashluna. Jurnal Pendidikan Dasar dan Keguruan. Vol 3 (1) hal. 62-70.

Published
2023-12-28